Indonesia
termasuk dalam kategori negara yang masih berkembang. Sebagai negara
berkembang, Indonesia dalam pembangunannya masih mengandalkan penerimaan negara
dari sektor pajak. Dari RAPBN 2015 dengan total pendapatan dalam negeri sebesar
1.846,1 T, sektor pajak
menyumbang 1.565,8 T atau lebih dari 60% dari total pendapatan. Sektor
pajak yang mendominasi menandakan pendapatan negara Indonesia bergantung pada
masyarakatnya. Semakin besar penghasilan masyarakat Indonesia maka semakin
besar pula penerimaan sektor pajak. Ketergantungan negara terhadap pajak tidak
di Imbangi dengan tingkat pendapatan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2014
sekitar 40% total penduduk berpenghasilan kelas bawah. Masih rendahnya
pendapatan masyarakat ini akan semakin memberatkan mereka jika harus dibebani
dengan pajak yang besar sebagai penunjang utama pendapatan negara. Oleh karena
itu kedepan negara harus bisa memaksimalkan
penerimaan dari sektor lain.
Dalam
upaya mewujudkan hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi di
setiap daerah. Mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan
sumber daya alam memungkinkan setiap daerah memiliki potensi sendiri-sendiri.
Begitu juga dengan daerah saya (Blitar) memiliki beberapa potensi daerah yang
perlu dimaksimalkan lagi. Salah satu potensi di Blitar yaitu mengenai kerajinan
tangannya. Banyak jenis kerajinan tangan yang di hasilkan oleh rumah-rumah
industri di Blitar mulai dari kendang jawa, mainan anak, tas dari batok kelapa
dan masih banyak lagi. Adapun sentra dari kerajinan tangan Kota Blitar berada
di wilayah Santren Desa Tanggung Kec. Kepanjen Kidul yang terkenal dengan
kendang jawanya.
Kualitas
kerajinan tangan dari desa Tanggung ini sudah diakui oleh pasar luas. Bahkan
beberapa negara asing juga sudah sampai mengimpor seperti Afrika yang pernah
mengimpor Jimbe. Meskipun kualitasnya sudah diakui, tetapi sampai hari ini
potensi kerajinan tangan di Blitar masih belum bisa dimaksimalkan. Banyak
faktor yang menjadi kendalan-kendala dalam mengembangkan industri kreatif ini.
Mulai dari rendahnya kualitas pendidikan SDM yang menyebabkan kesulitan dalam
melakukan inovasi produk baru sampai rendahnya kualitas infrastruktur
penunjang.
Infrastruktur
penunjang yang di butuhkan untuk memajukan potensi kerajinan tangan di Blitar
seperti rumah pameran produk atau showroom. Jika selama ini showroom identik
dengan pameran motor maupun mobil, maka saat ini pembuatan rumah pameran untuk
hasil kerajinan juga di butuhkan. Rumah pameran kerajinan ini tentunya
bertujuan untuk mengenalkan produk-produk hasil kepada masyarakat luas. Tidak
bisa dipungkiri bahwa publikasi saat ini menjadi penunjang meningkatkan
penjualan produk kerajinan. Semakin menarik model publikasi akan membuat
masyarakat semakin berminat membelinya. Tetapi sampai saat ini
fasilitas-fasilitas tempat pameran produk belum begitu banyak. Maka dari itu perlu
ada perhatian khusus dari pemerintah untuk menyediakan fasilitas tersebut agar
potensi daerah yang ada bisa dimaksimalkan. Karena jika penyediaan rumah
pameran ditanggungkan pada pelaku industri sangat tidak mungkin. Terlebih
masalah modal juga sering menjadi penghambat pelaku industri dalam
mengembangkan usahanya.
www.kemenkue.go.id